![]() |
| Ga,- |
Kamu tahu, kan, perihal rindu? Sesuatu yang tidak mampu untuk disembunyikan terlalu lama, sesuatu yang semakin lama dipendam, semakin jadi lebam. Sesuatu yang tidak bisa disembuhkan kecuali hanya dengan pertemuan. Tapi yang jadi pertanyaannya, apakah aku mampu untuk menemuimu? Karena, bahkan sekadar menyebut namamu saja tubuhku bergetar hebat, bagaimana bila aku benar-benar bertemu denganmu dan bilang kalau aku rindu? Aku tidak tahu deh, akan jadi seperti apa ceritanya.
Iya, kau tahu aku pemalu dari dulu. Aku malu bila perasaan seperti ini diketahui banyak orang. Kau tahu, aku juga selalu kesulitan untuk mengekspresikan perasaan, terlebih saat bersamamu. Padahal perasaan itu bukan aib, bukan sesuatu yang harus ditutup-tutupi. Tapi kau juga harus tahu, beginilah caraku menyayangimu.
Maaf yah, aku menulis ini bukan bermaksud untuk menyakiti atau mengganggu bahagiamu, hanya saja, aku tidak tahu harus menceritakannya pada siapa, dan mustahil juga kuceritakan ini padamu. Kenangan sangat sulit dilupakan.
Setelah kau memilih kata "pisah" untuk mengakhiri cerita itu, sejak itupula aku tak mampu merasakan kebahagiaan seutuhnya. Ini terlalu berlebihan yah? Memang kedengarannya seperti itu, tapi kenyataannya juga seperti itu. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan "selama rindu masih menetap, keramaian tak akan bisa menjanjikan tawa" dan itu benar. Aku bahkan selalu merasa sendirian, meski dikerumuni banyak kawan.
Percayalah, Ga. Tawa paling keras yang sering kau dengar dariku itu bukan tawaku yang sesungguhnya. Bahagiaku sudah kugantungkan padamu, semuanya. Sejak hari paling menyakitkan sepanjang sejarah hidupku itu, sejak itu pula aku merasa kehilangan banyak hal. Bukan hanya kehilangan kamu, juga kehilangan mimpi-mimpiku, kehilangan semua harapan-harapanku, dan semua bahagiaku yang terlanjur kugantungkan padamu seutuhnya. Aku tahu, teori sesungguhnya adalah kebahagiaan itu tidak dicari, tapi diciptakan. Dan yang jadi masalahnya adalah, aku kehilangan cara untuk menciptakan kebahagiaan itu tanpamu.
Dulu, saat masih sama kamu, aku terlalu bahagia. Aku merasa bahwa kamu akan jadi teman hidup yang pertama dan selamanya dalam hidupku. Aku merasa bahwa selama kamu ada, selama itu pula aku akan bahagia. Titik kesalahannya adalah aku lupa kalau kamu tidak selamanya akan ada. Aku lupa kalau suatu saat nanti salah satu dari kita akan pergi, entah itu didahului perpisahan atau tidak. Dan sekarang, semua terlanjur terjadi. Kamu tiba-tiba mengucap kata usai lalu pergi membawa seluruh bahagiaku yang pernah kutitipkan padamu. Sekali lagi, aku tahu ini akan terdengar sangat berlebihan, tapi begitulah cinta dan cara kerjanya.
Ga, tidak ada yang baik-baik saja setelah perpisahan. Untukku, pun untukmu. Sekarang, aku tengah berusaha untuk merawat puing-puing kebahagiaan yang dulu sempat kau sisakan untukku. Dan kamu, aku tahu kamu juga sedang tidak baik-baik saja, karena sebaik dan seburuk apapun kenangan itu, akan selalu punya waktu untuk terputar dengan sendirinya dalam ingatan. Dan aku mengerti, tiap kali kenangan itu muncul tiap itu pula kamu pasti merasa ada yang aneh, apakah kau berusaha untuk melepas kenangan itu, atau justru berusaha untuk kembali ke masa lalu? Aku tidak tahu.
Sebelum aku akhiri cerita bodoh ini, sekali lagi aku ingin bilang kalau aku merindukanmu. Jangan percaya pada bahagia yang kau lihat dariku setelah kepergianmu. Karena sejujurnya, tiap kali ku mengenangmu, tiap itu pula perasaan ini hadir untukmu.
Terima kasih untuk kisah tiga hari yang paling bermakna itu. Tiga hari yang penuh bahagia, yang belum pernah kurasakan sebelumnya selama hidupku. Kisah tiga hari itu, akan jadi kenangan yang baik dalam hidupku.
Baik-baik, Ga. Raih segala mimpi walau aku bukan salah satunya. Aku percaya, semesta menyayangimu lebih dari perasaanku padamu.
Qiona.

Membaca kisahnya, membuat rinduku menyeruak kepermukaan, berteriak agar segera dipertemukan, peluk jauh dari kawanmu.
BalasHapus