Langsung ke konten utama

KISAH TIGA HARI

Ga,-
Untukmu, seseorang yang tak mampu kusebutkan namanya. Ini aku, yang sedang merindukanmu sendirian. Maaf bila kau baca tulisan ini, kamu merasa tidak baik. Dan memang, aku menulis ini karena hatiku sedang tidak baik-baik saja. Aku merindukanmu, dan itu sulit untuk tidak diakui. Kamu apa kabar? Baik-baik, kan? Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, dan sudah lebih dari dua bulan kisah itu berakhir. 

Kamu tahu, kan, perihal rindu? Sesuatu yang tidak mampu untuk disembunyikan terlalu lama, sesuatu yang semakin lama dipendam, semakin jadi lebam. Sesuatu yang tidak bisa disembuhkan kecuali hanya dengan pertemuan. Tapi yang jadi pertanyaannya, apakah aku mampu untuk menemuimu? Karena, bahkan sekadar menyebut namamu saja tubuhku bergetar hebat, bagaimana bila aku benar-benar bertemu denganmu dan bilang kalau aku rindu? Aku tidak tahu deh, akan jadi seperti apa ceritanya. 

Iya, kau tahu aku pemalu dari dulu. Aku malu bila perasaan seperti ini diketahui banyak orang. Kau tahu, aku juga selalu kesulitan untuk mengekspresikan perasaan, terlebih saat bersamamu. Padahal perasaan itu bukan aib, bukan sesuatu yang harus ditutup-tutupi. Tapi kau juga harus tahu, beginilah caraku menyayangimu.

Maaf yah, aku menulis ini bukan bermaksud untuk menyakiti atau mengganggu bahagiamu, hanya saja, aku tidak tahu harus menceritakannya pada siapa, dan mustahil juga kuceritakan ini padamu. Kenangan sangat sulit dilupakan.

Setelah kau memilih kata "pisah" untuk mengakhiri cerita itu, sejak itupula aku tak mampu merasakan kebahagiaan seutuhnya. Ini terlalu berlebihan yah? Memang kedengarannya seperti itu, tapi kenyataannya juga seperti itu. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan "selama rindu masih menetap, keramaian tak akan bisa menjanjikan tawa" dan itu benar. Aku bahkan selalu merasa sendirian, meski dikerumuni banyak kawan. 

Percayalah, Ga. Tawa paling keras yang sering kau dengar dariku itu bukan tawaku yang sesungguhnya. Bahagiaku sudah kugantungkan padamu, semuanya. Sejak hari paling menyakitkan sepanjang sejarah hidupku itu, sejak itu pula aku merasa kehilangan banyak hal. Bukan hanya kehilangan kamu, juga kehilangan mimpi-mimpiku, kehilangan semua harapan-harapanku, dan semua bahagiaku yang terlanjur kugantungkan padamu seutuhnya. Aku tahu, teori sesungguhnya adalah kebahagiaan itu tidak dicari, tapi diciptakan. Dan yang jadi masalahnya adalah, aku kehilangan cara untuk menciptakan kebahagiaan itu tanpamu. 

Dulu, saat masih sama kamu, aku terlalu bahagia. Aku merasa bahwa kamu akan jadi teman hidup yang pertama dan selamanya dalam hidupku. Aku merasa bahwa selama kamu ada, selama itu pula aku akan bahagia. Titik kesalahannya adalah aku lupa kalau kamu tidak selamanya akan ada. Aku lupa kalau suatu saat nanti salah satu dari kita akan pergi, entah itu didahului perpisahan atau tidak. Dan sekarang, semua terlanjur terjadi. Kamu tiba-tiba mengucap kata usai lalu pergi membawa seluruh bahagiaku yang pernah kutitipkan padamu. Sekali lagi, aku tahu ini akan terdengar sangat berlebihan, tapi begitulah cinta dan cara kerjanya. 

Ga, tidak ada yang baik-baik saja setelah perpisahan. Untukku, pun untukmu. Sekarang, aku tengah berusaha untuk merawat puing-puing kebahagiaan yang dulu sempat kau sisakan untukku. Dan kamu, aku tahu kamu juga sedang tidak baik-baik saja, karena sebaik dan seburuk apapun kenangan itu, akan selalu punya waktu untuk terputar dengan sendirinya dalam ingatan. Dan aku mengerti, tiap kali kenangan itu muncul tiap itu pula kamu pasti merasa ada yang aneh, apakah kau berusaha untuk melepas kenangan itu, atau justru berusaha untuk kembali ke masa lalu? Aku tidak tahu. 

Sebelum aku akhiri cerita bodoh ini, sekali lagi aku ingin bilang kalau aku merindukanmu. Jangan percaya pada bahagia yang kau lihat dariku setelah kepergianmu. Karena sejujurnya, tiap kali ku mengenangmu, tiap itu pula perasaan ini hadir untukmu. 

Terima kasih untuk kisah tiga hari yang paling bermakna itu. Tiga hari yang penuh bahagia, yang belum pernah kurasakan sebelumnya selama hidupku. Kisah tiga hari itu, akan jadi kenangan yang baik dalam hidupku.

Baik-baik, Ga. Raih segala mimpi walau aku bukan salah satunya. Aku percaya, semesta menyayangimu lebih dari perasaanku padamu.


Qiona.

Komentar

  1. Membaca kisahnya, membuat rinduku menyeruak kepermukaan, berteriak agar segera dipertemukan, peluk jauh dari kawanmu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA HARI TUA

-- Terkadang, kita bermimpi dan berkhayal jadi orang dewasa. Bisa pergi kemana saja, berpetualang sesuka hati, punya pencapaian yang berarti, mau beli apa saja tanpa perlu ada izin mami papi, dan masih banyak lagi, terutama soal cinta. Waktu kecil, saya melihat anak remaja yang bersua dengan pasangannya. Mereka sangat menyatu, membagi rasa, membagi kasih, dan banyak sekali pengalaman yang mereka ciptakan bersama. Waktu kecil, saya ingin sekali jadi orang dewasa, biar bisa melakukan apa saja yang saya suka, tapi ketika masa itu sudah saya genggam, perlahan saya menyerah dengan keadaan.  "Semua tidak semudah yang kubayangkan". Begitu yang sering kubilang tatkala mengeluh pada kenyataan.  Ternyata, jadi orang dewasa itu lebih menegangkan. Kalau kata andai bisa dikabulkan, saya akan meminta andai saya jadi anak kecil saja. Yang bahagianya sangat sederhana, yang kesukaannya bisa ia genggam hanya dengan tangisan saja. kalau jadi dewasa, apa yang diinginkan harus diusahakan sek...

Hari ke-1

Bulan ini, ibu saya akan berulang tahun yang ke 53 tahun. Tapi, sampai di hari ke 12 di bulan ini, saya sangat sepi job. Bahkan sebenarnya saya tidak punya uang samasekali. Ada sih beberapa job yang masuk, tapi cuma collab dan bayarannya cuma makan (Alhamdulillah, bersyukur!). Bersyukur bgt sebenarnya, karena walaupun bukan uang kan itu juga termasuk rezeki dari Allah. Tapi, tolong ini buat teman-teman saya, yang punya projekan, plis janganlah selalu mengandalkan projek thankyou, soalnya tiap orang punya keperluan beda-beda, kadang-kadang mereka punya keperluan mendesak, sama kayak saya sekarang ini. Niat kerja kumpulkan uang biar bisa beli kado buat ibu, biar bisa pulang kampung kasih surprise ke beliau, tapi sampai hari ini masih belum terkumpul uangnya seeepeserpun. Bukan, tulisan ini bukan untuk meminta sumbangan pembaca-pembaca. Bukan. Saya cuma mau tulisan ini menjadi jejak. Mari kita lihat seperti apa dunia berpihak pada niat baik saya untuk merayakan hari ulang tahun ibu saya d...

REVIEW FILM "ZERO" karya Mihir Mahidar

Film ini dimulai dengan teknik pengambilan gambar "extreme long shot" yaitu pengambilan gambar dari jauh hingga menampakkan pemandangan yang sangat luas disekitar objek. Di awal film kita disuguhkan pemandangan disebuah desa pegunungan yang tandus dan gersang. Hal inilah yang menurut saya menyiratkan informasi mengenai tempat yang akan diceritakan dalam film ini. Dan secara tersirat menjawab pertanyaan "di mana". Kemudian dipertegas lagi dengan adanya pembatas jalan yang bertuliskan "Nanakheda 10 km". Film yang ditulis oleh Mihir Mahidhar ini secara keseluruhan menceritakan tentang kehidupan seorang anak laki-laki yang tinggal sebatang kara, menghabiskan waktunya sepanjang hari menjaga warung tua peninggalan ibunya. Setiap hari orang hanya lewat, kendaraan lalu lalang tanpa satupun yang berminat untuk singgah. Jujur, ada satu hal yang buat saya bertanya-tanya. Di beberapa bagian dalam film ini, ada yang menampilkan bendera putih lusuh serta bendera...