Langsung ke konten utama

Hari ke-1

Bulan ini, ibu saya akan berulang tahun yang ke 53 tahun. Tapi, sampai di hari ke 12 di bulan ini, saya sangat sepi job. Bahkan sebenarnya saya tidak punya uang samasekali. Ada sih beberapa job yang masuk, tapi cuma collab dan bayarannya cuma makan (Alhamdulillah, bersyukur!). Bersyukur bgt sebenarnya, karena walaupun bukan uang kan itu juga termasuk rezeki dari Allah. Tapi, tolong ini buat teman-teman saya, yang punya projekan, plis janganlah selalu mengandalkan projek thankyou, soalnya tiap orang punya keperluan beda-beda, kadang-kadang mereka punya keperluan mendesak, sama kayak saya sekarang ini. Niat kerja kumpulkan uang biar bisa beli kado buat ibu, biar bisa pulang kampung kasih surprise ke beliau, tapi sampai hari ini masih belum terkumpul uangnya seeepeserpun.

Bukan, tulisan ini bukan untuk meminta sumbangan pembaca-pembaca. Bukan. Saya cuma mau tulisan ini menjadi jejak. Mari kita lihat seperti apa dunia berpihak pada niat baik saya untuk merayakan hari ulang tahun ibu saya di tanggal 20 September nanti. Jadi, saya akan terus menulis tiap hari di sini. Menuliskan apa saja yang terjadi di 8 hari ke depan. Kata orang-orang hidup penuh kejutan. Kalau begitu, mari kita tunggu kejutan apa yang akan datang.

Oiya, curhat sedikit boleh lah ya.

Jadi bulan ini benar-benar jadi masa terendah dalam hidup saya. Tanggal 4 kemarin saya gajian. Fyi, satu-satunya pekerjaan tempat saya menggantungkan hidup adalah sebagai penyiar radio di salah satu radio swasta di Makassar. Selama Pandemi, upah kami semakin ke sini makin turun. Saya berhasil dapat upah 300.000 sebagai gaji saya untuk bulan Agustus. Sesedikit itu??? Memang karena dibayar part time, dan saya dibayar sesuai sebanyak apa saya masuk siaran. Agustus kemarin memang cukup sibuk, jadi banyak jadwal yang keskip, yaa akhirnya cuma bisa dapat segitu di bulan kemarin. Tanggal 4 gajian, hari itu juga habis total. Ini rinciannya :

- 200.000 : bayar jasa jahit karena kebetulan di tanggal 5 ada teman sesama penyiar yang akan menikah.

- 50.000 : ckck beli kado buat teman yang menikah.

- 50 .000 : isi bensin (2 hari sudah habis)

Ludes. Habislah semua. Sejak hari itu saya tidak punya uang seribu pun. Pulang ke rumah, tiba-tiba kuota habis. Besoknya, salah seorang teman mencari saya, katanya sudah menghubungi saya tapi tidak bsa dihubungi. Ternyata dia mau oper jobnya ke saya tapi keburu di ambil orang lain karena saya slow respon. Tidak apa-apa, bukan rejeki berarti. Walau sebenarnya saya sangat butuh job itu. Sabun mandi, habis. Sabun cuci, habis. Gas, habis. Voucher listrik, sekarat. Atm, hilang. Skincare, habis total. Dan tadaa, tiba-tiba saya mens, tentu saja untuk beli pembalut harus mengeluarkan uang juga. Syukurlah, masih ada dua pcs pembalut yang menyelamatkan saya, tapi hari ketika saya menulis ini adalah hari ke-2 saya mens. Itu artinya, ini adalah pembalut terakhir yang saya punya. Besok pake aapaaa dooongg???!!! Oh no! Anjay mau nangis kencaaaaaaannnggg. Segininya ya hidup? Hahahaha.

Selama dua pekan ini, saya sudah dua kali pinjam uang ke orang yang berbeda, biar bisa beli bensin karena harus tetap masuk siaran. Jumlah utang saya, sudah mencapai persis seperti jumlah gaji yang saya terima di tanggal 4 kemarin. :')

Kadang, niat hati untuk mandiri dan tidak jadi beban orang tua, jadi agak goyang kalau sudah di fase begini. Tapi tidak, saya berusaha tetap kekeuh untuk tidak meminta uang jajan ke orang tua. Masih banyak yang harus mereka biayai. Yang mau hidup dan butuh keperluan banyak bukan cuma saya. Adik-adik saya juga berhak dapatin itu. 

Yasudah, saya jalani saja dulu. Kata orang, hidup penuh kejutan, mari kita lihat kejutan apa yang telah menanti di depan. Saya menjalani hari-hari ini betul-betul cuma rumah-studio-rumah-studio. Ada ajakan hangout, walaupun temen siap traktir tapi tetap harus irit bensin, jadi big no no hangout-hangoutan, big no no buat keluyuran. 

Ya, kita liat lagi besok. Bagaimana dunia berpihak pada saya. Akankah ada kejutan? Atau harus menunggu besok dan besoknya lagi?

Sekian dulu, lanjut besok.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA HARI TUA

-- Terkadang, kita bermimpi dan berkhayal jadi orang dewasa. Bisa pergi kemana saja, berpetualang sesuka hati, punya pencapaian yang berarti, mau beli apa saja tanpa perlu ada izin mami papi, dan masih banyak lagi, terutama soal cinta. Waktu kecil, saya melihat anak remaja yang bersua dengan pasangannya. Mereka sangat menyatu, membagi rasa, membagi kasih, dan banyak sekali pengalaman yang mereka ciptakan bersama. Waktu kecil, saya ingin sekali jadi orang dewasa, biar bisa melakukan apa saja yang saya suka, tapi ketika masa itu sudah saya genggam, perlahan saya menyerah dengan keadaan.  "Semua tidak semudah yang kubayangkan". Begitu yang sering kubilang tatkala mengeluh pada kenyataan.  Ternyata, jadi orang dewasa itu lebih menegangkan. Kalau kata andai bisa dikabulkan, saya akan meminta andai saya jadi anak kecil saja. Yang bahagianya sangat sederhana, yang kesukaannya bisa ia genggam hanya dengan tangisan saja. kalau jadi dewasa, apa yang diinginkan harus diusahakan sek...

REVIEW FILM "ZERO" karya Mihir Mahidar

Film ini dimulai dengan teknik pengambilan gambar "extreme long shot" yaitu pengambilan gambar dari jauh hingga menampakkan pemandangan yang sangat luas disekitar objek. Di awal film kita disuguhkan pemandangan disebuah desa pegunungan yang tandus dan gersang. Hal inilah yang menurut saya menyiratkan informasi mengenai tempat yang akan diceritakan dalam film ini. Dan secara tersirat menjawab pertanyaan "di mana". Kemudian dipertegas lagi dengan adanya pembatas jalan yang bertuliskan "Nanakheda 10 km". Film yang ditulis oleh Mihir Mahidhar ini secara keseluruhan menceritakan tentang kehidupan seorang anak laki-laki yang tinggal sebatang kara, menghabiskan waktunya sepanjang hari menjaga warung tua peninggalan ibunya. Setiap hari orang hanya lewat, kendaraan lalu lalang tanpa satupun yang berminat untuk singgah. Jujur, ada satu hal yang buat saya bertanya-tanya. Di beberapa bagian dalam film ini, ada yang menampilkan bendera putih lusuh serta bendera...