Langsung ke konten utama

REVIEW FILM "ZERO" karya Mihir Mahidar



Film ini dimulai dengan teknik pengambilan gambar "extreme long shot" yaitu pengambilan gambar dari jauh hingga menampakkan pemandangan yang sangat luas disekitar objek. Di awal film kita disuguhkan pemandangan disebuah desa pegunungan yang tandus dan gersang. Hal inilah yang menurut saya menyiratkan informasi mengenai tempat yang akan diceritakan dalam film ini. Dan secara tersirat menjawab pertanyaan "di mana". Kemudian dipertegas lagi dengan adanya pembatas jalan yang bertuliskan "Nanakheda 10 km".

Film yang ditulis oleh Mihir Mahidhar ini secara keseluruhan menceritakan tentang kehidupan seorang anak laki-laki yang tinggal sebatang kara, menghabiskan waktunya sepanjang hari menjaga warung tua peninggalan ibunya. Setiap hari orang hanya lewat, kendaraan lalu lalang tanpa satupun yang berminat untuk singgah.

Jujur, ada satu hal yang buat saya bertanya-tanya. Di beberapa bagian dalam film ini, ada yang menampilkan bendera putih lusuh serta bendera warna warni yang sudah memudar. Entah ini mengandung maksud tertentu atau tidak. Tapi menurut saya, bendera putih itu melambangkan bahwa ada yang sudah pergi menghadap Tuhan, dan itu dikuatkan dengan adanya foto sang ibu yang terpajang di dinding warung. Kalau tentang bendera warna warni itu, saya juga masih bingung, mungkin itu cuma sebagai "framing" saja dalam teknik pengambilan gambarnya. Entahlah.

Ada ratusan kendaraan yang lewat setiap hari, tapi tak satupun yang mau mampir minum teh di warung tua ini. Memang, ada beberapa yang singgah. Tapi tidak untuk berbelanja di warung itu apalagi minum teh, mereka hanya singgah buang air kecil di pinggir jalan, disekitar semak-semak. Kehidupan anak ini terus berlanjut, ia bergantung pada biskuit yang membusuk di warungnya atau makanan sisa yang dibuang oleh orang lewat, untuk mengganjal perutnya.

Sejauh ini, perasaan saya campur aduk saat menonton film tersebut. Sedih sekali rasanya melihat anak yang harus menanggung hidupnya sendiri, sebatang kara, dan hanya bisa menonton anak-anak seusianya bermain dan tertawa gembira. Namun saya juga merasa bingung sekaligus tercengang. Sejauh ini belum ada percakapan samasekali dalam film ini, itu memaksa saya untuk berpikir keras dan berusaha untuk tetap fokus. Di sinilah keahlian penulis dalam menyusun skenarionya, karena ia mampu mengekspresikan banyak hal tanpa banyak berkata-kata. Ia seolah-olah memberi pertanyaan kemudian memberi jawaban setelahnya, penulis berhasil menarik perhatian penonton dan membawanya ke dalam pikiran masing-masing dalam mengartikan cerita ini.

Kehidupan seorang anak yatim yang miskin dan kering menunggu pengunjung singgah di warung tuanya seketika berubah saat dua pemuda mabuk yang singgah buang air kecil di dekat pembatas jalan yang bertuliskan "Nanakheda 10 km". Pemuda yang sedang mabuk itu kemudian menghapus angka nol yang ada dalam pembatas jalan sehingga tulisannya berubah jadi "Nanakheda 1 km".
Setelah kejadian itu, akhirnya banyak pengendara yang singgah di warung milik anak laki-laki ini. Pelanggan pertamanya adalah seorang bapak yang sedang mengendarai mobil. Kemudian setelah itu, banyak orang yang singgah, pesan minum, makan, atau sekadar beristirahat sambil bergurau bersama rombongan masing-masing. Setiap hari warung tua itu dipenuhi pengunjung. Dan barulah pada adegan ini ada beberapa percakapan. Hampir setiap orang yang singgah menanyakan "berapa jauh lagi jarak Nanakheda dari sini?," Lalu dijawab oleh anak itu "10 km lagi dari sini".

Hingga pada akhirnya, ada bapak yang bertanya "lalu, menangkap di sana tertulis Nanakheda 1 km?". Anak ini bingung, sekaligus bahagia seolah telah mendapat jawaban apa yang membuat telah membuat warungnya disinggahi banyak orang. Ia akhirnya berjalan ke pembatas jalan itu sambil membawa dupa.

Berbicara tentang kelebihan film ini, seperti yang saya jelaskan tadi bahwa penulis sangat mahir dalam menulis skenarionya. Karena mampu membuat setiap gambar seolah bercerita meski tanpa kata-kata. Selain itu teknik pengambilan gambarnya yang penuh estetika. Penyampaian makna tersirat yang sangat kuat melalui beberapa poin yang saya tangkap dalam film ini seperti bendera putih, foto, burger yang dibuang, pembatas jalan, angka nol yang dihapus, dan dupa. Film ini secara jelas dapat membuat hati penonton tersentuh, dengan pesan bahwa tidak ada penantian yang berakhir sia-sia. Setiap hal yang terjadi sudah ada jalannya masing-masing, kita hanya butuh menunggu waktunya tiba, dan bersyukur atas semua yang terjadi.

Secara keseluruhan saya tidak menemukan kekurangan dalam film ini, hanya tetap saja tentu akan ada ketidaksempurnaan dalam setiap karya. Ada plot yang menurut saya 'jumping' atau melompat. Selain itu, terlalu banyak membuang durasi pada penggambaran tempat di awal film, itu membuat saya sedikit bosan dan hampir saja tidak berminat lagi untuk melanjutkan menontonnya.
Tapi secara keseluruhan, film ini memang sangat bagus. Makna yang terkandung secara tersirat sangat jelas dan dapat diterima oleh penonton dengan baik.

Saya rasa cukup untuk 'review' kali ini. Saya menulis ini atas perspektif saya sendiri, jadi bila ada yang kurang tepat atau bahkan salah, mohon dikoreksi. Terima kasih :)


Sweet love,
Qiona.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA HARI TUA

-- Terkadang, kita bermimpi dan berkhayal jadi orang dewasa. Bisa pergi kemana saja, berpetualang sesuka hati, punya pencapaian yang berarti, mau beli apa saja tanpa perlu ada izin mami papi, dan masih banyak lagi, terutama soal cinta. Waktu kecil, saya melihat anak remaja yang bersua dengan pasangannya. Mereka sangat menyatu, membagi rasa, membagi kasih, dan banyak sekali pengalaman yang mereka ciptakan bersama. Waktu kecil, saya ingin sekali jadi orang dewasa, biar bisa melakukan apa saja yang saya suka, tapi ketika masa itu sudah saya genggam, perlahan saya menyerah dengan keadaan.  "Semua tidak semudah yang kubayangkan". Begitu yang sering kubilang tatkala mengeluh pada kenyataan.  Ternyata, jadi orang dewasa itu lebih menegangkan. Kalau kata andai bisa dikabulkan, saya akan meminta andai saya jadi anak kecil saja. Yang bahagianya sangat sederhana, yang kesukaannya bisa ia genggam hanya dengan tangisan saja. kalau jadi dewasa, apa yang diinginkan harus diusahakan sek...

Hari ke-1

Bulan ini, ibu saya akan berulang tahun yang ke 53 tahun. Tapi, sampai di hari ke 12 di bulan ini, saya sangat sepi job. Bahkan sebenarnya saya tidak punya uang samasekali. Ada sih beberapa job yang masuk, tapi cuma collab dan bayarannya cuma makan (Alhamdulillah, bersyukur!). Bersyukur bgt sebenarnya, karena walaupun bukan uang kan itu juga termasuk rezeki dari Allah. Tapi, tolong ini buat teman-teman saya, yang punya projekan, plis janganlah selalu mengandalkan projek thankyou, soalnya tiap orang punya keperluan beda-beda, kadang-kadang mereka punya keperluan mendesak, sama kayak saya sekarang ini. Niat kerja kumpulkan uang biar bisa beli kado buat ibu, biar bisa pulang kampung kasih surprise ke beliau, tapi sampai hari ini masih belum terkumpul uangnya seeepeserpun. Bukan, tulisan ini bukan untuk meminta sumbangan pembaca-pembaca. Bukan. Saya cuma mau tulisan ini menjadi jejak. Mari kita lihat seperti apa dunia berpihak pada niat baik saya untuk merayakan hari ulang tahun ibu saya d...