Langsung ke konten utama

SAMA SAMA TERUS, YA!

Izinkan saya bercerita tentang satu orang yang telah bawa banyak hal baik ke hidup saya. Izinkan saya bercerita tentang satu manusia yang telah berhasil mengubah sudut pandang saya tentang dunia. Satu manusia yang berhasil buat saya menangis dan tersenyum dalam satu waktu. Manusia aneh, paaaling keras kepala, tapi selalu membuat saya merasa saaangaattt dicintai, saaangaattt dihargai. Satu-satunya manusia di hidup saya, yang ketika menceritakan hal yang sama, saya selalu bersedia mendengarnya berulang kali, puluhan kali, ratusan kali, ribuaann kali.

He's my boyfriend. Kami saling menganggap satu sama lain sebagai teman. Teman hidup. Banyak yang justru mengira kami ini memang hanyalah sebatas teman biasa. Dan banyak juga dari mereka yang akhirnya salut dengan hubungan kami berdua. Katanya, "gaya pacaran kalian itu keren". Entahlah, entah darimana mereka melihat keistimewaan antara kami berdua. Kami bahkan hanya menganggap ini sebagai sebuah kekonyolan, kadang-kadang. Hehehe. Tapi ya, satu kebanggaan juga karena sering dapat pujian bahkan dukungan dari mereka.

Singkat cerita, kami bertemu di salah satu kegiatan. Mungkin kamu yang sering membaca tulisan saya sebelumnya, agak aneh dengan apa yang kamu baca sekarang ini.

Kamu pasti tahu bahwa penulis cerita ini pernah begitu jatuh cinta pada laki-laki yang meninggalkannya tanpa sebab. Ia tetap jatuh cinta, menangis sampai pagi, berharap agar cintanya bisa kembali utuh, menulis begitu banyak cerita dan puisi, caption dan story, tapi ternyata beribu kata itu tidak cukup untuk membuat sang pujaan hati mau menolehnya kembali. Ia masih menyimpan nama itu hingga kini. Tapi perempuan yang menulis tulisan ini, tidak lagi mengingat lelaki itu sebagai sosok yang saaaangaatt dikaguminya, melainkan hanya bagian dari hidupnya yang ia syukuri karena dengan perpisahan yang membuatnya sakit hati itu, penulis cerita ini akhirnya bertemu dengan satu manusia yang berhasil mengembalikan dunianya.

Okay, semua berawal dari satu kegiatan, dan di sanalah kami bertemu. Di suatu kota yang cukup jauh dari tempat kami sekarang. Bermula dari perkenalan dengan modus minta difoto, berlanjut ke percakapan-percakapan yang tidak ada habisnya, sampai sekarang.

Times flies. Tidak terasa, sudah 2 tahun berlalu, setelah pertama kali kami ketemu dan memulai perjalanan ini. Satu-satunya perjalanan di hidup saya yang dimulai tanpa tujuan, tanpa rencana apa-apa. Tapi perjalanan ini membawa baanyaakk pengalaman luar biasa dalam hidup saya. Dia jadi satu-satunya manusia yang berhasil buat saya yakin tentang sesuatu tanpa harus mencari tahu lebih dulu. Banyak hal yang telah kami tangisi juga tertawai. Makan nasi kuning 5 ribu satu piring bukan hal yang jarang kami lakukan. Makan nasi pakai lauk gorengan juga sudah pernah. Kehabisan duit, kehabisan bensin, bahkan masuk tol dengan kartu yang saldonya 'tidak cukup'pun pernah. Bertengkar hebat sampai mau nyerah juga sudah kami lalui. Menangis karena ditolak pekerjaan impian, pernah. Menangis sampai mau gila karena kehilangan pekerjaan juga pernah. Ya banyaklah pokoknya.

Saya tidak akan menulis panjang lebar tentang bagaimana kami bertemu, bagaimana dia mengungkapkan perasaannya ke saya, bagaimana momen-momen romantis kami. Karena kami tidak pernah begitu mengistimewakan hal itu. Kami erat karena kami tahu apa yang dipertahankan ini baik adanya. Kami berjalan, meski tanpa tujuan, yang jelas kami tetap sama-sama sampai kapanpun. Walaupun ya 'kebersamaan sampai kapanpun' itu sebenarnya adalah tujuan.

Saya menulis ini atas kesyukuran saya telah dipertemukan dengan seseorang seperti dia. Memang, dia bukan laki-laki romantis yang tiap malam minggu jemput ceweknya untuk nge-date, kasih kado tiap valentine, kasih surprise tiap anniv (kami bahkan tidak punya tanggal jadian hahahahah). Tapi, dengan pribadi se-apa adanya dirinya, saya jatuh sedalam-dalamnya.

Sini saya kasih tau. Dia manusia paling sabar yang saya kenal. Bahkan kalau harus dibandingkan dengan ayah saya, ayah saya kalah. Wkwkwk.

Saya sering judes, atau jengkel entah karena saya sedang unmood atau karena tingkahnya yang menyebalkan, tapi dia tidak pernah merasa ada masalah dengan itu. Malah terus melakukan hal-hal konyol sampai saya tertawa. Iya, dia orang yang cukup humoris dan bodoamat.

Ketika saya marah, dia balas dengan senyum. Dia dengan begitu sabar menenangkan, bahkan dia tidak masalah harus bilang "sayaaangg, maaf" untuk hal yang kadang dia sendiri tidak tahu salahnya di mana. Saya pukul dia, dia balas dengan peluk. How couldn't i ever fall in love over and over?

He treat me better. Dia mempersilakan saya merasakan dan mengekspresikan apapun yang saya rasakan, tidak ada tekanan samasekali. Begitupun dengannya. Dia tidak pernah canggung untuk bilang apapun, ia mengungkapkan impiannya, rencananya, hal-hal yang membuatnya sebal seharian, bahkan sikap atau tingkah saya yang kurang berkenan dihatinya, dia mengungkapkannya dengan saaaangaatt baik dan hati-hati. Saya lihat dia dua tahun lalu, dan hari ini, itu sama saja. Tidak ada yang berubah kecuali rambutnya yang semakin panjang dan kumisnya yang semakin tebal (sedikit menyebalkan) wkwkwk.

He's a loving person. Saat mamanya sakit, ia tidak akan meninggalkan rumah untuk hal apapun sampai mamanya membaik. Ia juga menjalani pekerjaannya dengan begitu tekun, sabar, dan penuh tanggung jawab. Menolong orang lain memang terdengar begitu mudah, tapi untuk konsisten melakukan hal itu dalam jangka waktu yang panjang, dan tanpa balasan yang menjanjikan, saya rasa akan jadi hal yang sangat sulit, tapi dia menjalaninya.

Sudut pandang saya terhadap dunia berubah sejak sering bertukar pikiran dengannya. Bercerita banyak hal adalah hal paling menyenangkan buat kami berdua. Dan itu akan terus kami lakukan. Bahkan ketika nanti sudah tua, ketika tidak ada lagi hal yang menyenangkan di dunia ini, mendengar cerita satu sama lain dengan segelas teh hangat di sore hari mungkin akan jadi satu-satunya hal yang melegakan.

Entah kenapa saya ingin sekali menulis ini di sini. Tadinya saya hanya berpikir, mau bilang terima kasih ke dia via WhatsApp, cukup dengan send kalimat "terima kasih yaaa sudah sama sama terus". Tapi rasanya tidak sepadan dengan apa yang telah dia jejakkan di hidup saya. Akhirnya tertulislah semua ini. I know, he deserve it. 

Sewaktu-waktu saya bisa merasa sangat sesak bila harus membayangkan kalau nanti harus berpisah dengannya. Air mata saya bisa jatuh begitu saja hanya dengan menatap matanya, atau bahkan hanya fotonya. How gratefull i'm. Betapa beruntungnya saya telah dipertemukan dengan manusia ini. Takut, bercampur dengan harap-harap cemas, bercampur dengan bahagia, acak-acakan. Kadang merasa begitu takut dengan apa yang akan terjadi di depan sana, kadang merasa begitu berani, kadang gelisah, kadang begitu tenang. Mungkin memang seperti inilah cara cinta bekerja.

Saya yakin tulisan ini akan terkesan begitu menggelikan untuk beberapa orang yang membacanya. Taapiii,

Kepada laki-laki yang saya maksud, here's i told u that i looooooooovee youu so much, so damn! I miss youuuu soo much! Jadi kapan kita keliling-keliling lagi naik Vespa???

Saya mungkin jarang mengucapkan ini langsung di depan wajahmu, atau menuliskan kalimat sepanjang ini untukmu, saya bahkan tidak pernah memposting fotomu dengan caption "💖" di instagramku, saya bahkan lebih sering memanggil namamu ketimbang dengan panggilan "sayang" atau "bee bee" layaknya orang pacaran. Saya tidak sering melakukan semua itu, karena saya takut. Saya takut suatu hari akan kehilanganmu dan sakit hati yang pernah merenggut hampir seluruh bahagia itu kembali lagi saya rasakan.

Tapi dibalik ketakutan itu, saya juga semakin takut, takut kamu tidak bisa mengerti the way i love you. Untuk itu, saya persembahkan tulisan ini untukmu. Untuk seorang laki-laki yang telah berani mengungkapkan janji dan niat baiknya ke ayahku. Seorang laki-laki yang dengan kehangatan tangannya telah berhasil memeluk ketidaksempurnaanku. Terima kasih untuk 2020, 2021, dan tahun-tahun berikutnya sampai maut datang.

"Sama sama terus ya, Wan"

"Iya, sampai surga".

Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA HARI TUA

-- Terkadang, kita bermimpi dan berkhayal jadi orang dewasa. Bisa pergi kemana saja, berpetualang sesuka hati, punya pencapaian yang berarti, mau beli apa saja tanpa perlu ada izin mami papi, dan masih banyak lagi, terutama soal cinta. Waktu kecil, saya melihat anak remaja yang bersua dengan pasangannya. Mereka sangat menyatu, membagi rasa, membagi kasih, dan banyak sekali pengalaman yang mereka ciptakan bersama. Waktu kecil, saya ingin sekali jadi orang dewasa, biar bisa melakukan apa saja yang saya suka, tapi ketika masa itu sudah saya genggam, perlahan saya menyerah dengan keadaan.  "Semua tidak semudah yang kubayangkan". Begitu yang sering kubilang tatkala mengeluh pada kenyataan.  Ternyata, jadi orang dewasa itu lebih menegangkan. Kalau kata andai bisa dikabulkan, saya akan meminta andai saya jadi anak kecil saja. Yang bahagianya sangat sederhana, yang kesukaannya bisa ia genggam hanya dengan tangisan saja. kalau jadi dewasa, apa yang diinginkan harus diusahakan sek...

Hari ke-1

Bulan ini, ibu saya akan berulang tahun yang ke 53 tahun. Tapi, sampai di hari ke 12 di bulan ini, saya sangat sepi job. Bahkan sebenarnya saya tidak punya uang samasekali. Ada sih beberapa job yang masuk, tapi cuma collab dan bayarannya cuma makan (Alhamdulillah, bersyukur!). Bersyukur bgt sebenarnya, karena walaupun bukan uang kan itu juga termasuk rezeki dari Allah. Tapi, tolong ini buat teman-teman saya, yang punya projekan, plis janganlah selalu mengandalkan projek thankyou, soalnya tiap orang punya keperluan beda-beda, kadang-kadang mereka punya keperluan mendesak, sama kayak saya sekarang ini. Niat kerja kumpulkan uang biar bisa beli kado buat ibu, biar bisa pulang kampung kasih surprise ke beliau, tapi sampai hari ini masih belum terkumpul uangnya seeepeserpun. Bukan, tulisan ini bukan untuk meminta sumbangan pembaca-pembaca. Bukan. Saya cuma mau tulisan ini menjadi jejak. Mari kita lihat seperti apa dunia berpihak pada niat baik saya untuk merayakan hari ulang tahun ibu saya d...

REVIEW FILM "ZERO" karya Mihir Mahidar

Film ini dimulai dengan teknik pengambilan gambar "extreme long shot" yaitu pengambilan gambar dari jauh hingga menampakkan pemandangan yang sangat luas disekitar objek. Di awal film kita disuguhkan pemandangan disebuah desa pegunungan yang tandus dan gersang. Hal inilah yang menurut saya menyiratkan informasi mengenai tempat yang akan diceritakan dalam film ini. Dan secara tersirat menjawab pertanyaan "di mana". Kemudian dipertegas lagi dengan adanya pembatas jalan yang bertuliskan "Nanakheda 10 km". Film yang ditulis oleh Mihir Mahidhar ini secara keseluruhan menceritakan tentang kehidupan seorang anak laki-laki yang tinggal sebatang kara, menghabiskan waktunya sepanjang hari menjaga warung tua peninggalan ibunya. Setiap hari orang hanya lewat, kendaraan lalu lalang tanpa satupun yang berminat untuk singgah. Jujur, ada satu hal yang buat saya bertanya-tanya. Di beberapa bagian dalam film ini, ada yang menampilkan bendera putih lusuh serta bendera...