Langsung ke konten utama

SEBULAN TANPA MEDSOS? EMANG BISA?



Pernah merasa sangat lelah padahal tidak melakukan apa-apa?
Pernah merasa bosan dengan hidup yang begitu-begitu saja?
Pernah merasa tidak punya cukup waktu dalam 24 jam?
Pernah merasa sulit fokus? Susah tidur? Cemas berlebihan? Stress?

Pernah?

Tenang.
Kamu tidak sendiri.

Saya bahkan merasa saya telah kehilangan diri saya. I'm losing my self. Saya bingung, seperti ada hal yang lama telah terkubur, tertinggal, terlupakan dalam hidup saya. Rasa kehilangan itulah yang membuat saya bahkan tidak mengenali siapa diri saya sebenarnya, apa tujuan hidup saya, mau ke mana, sejauh apa saya melangkah, bahkan lupa pada mimpi-mimpi yang dulu selalu jadi alasan saya tersenyum di awal hari.


Hingga pada suatu waktu, ketika saya sedang asyik scrolling instagram, saya terhentak. Seperti terpukul jiwa saya. Tiba-tiba saja muncul kalimat dalam kepala saya yang entah datang dari mana "Apa semua ini nyata atau cuma tren faking life? Mau sampai kapan bohongi diri sendiri dan orang lain?"


Sejak terjun dalam media sosial, saya merasakan adanya perubahan drastis dalam hidup saya. Mulai dari perubahan yang baik hingga perubahan yang tidak saya sadari ternyata membawa dampak buruk dalam hidup saya. Insecure, tentu saja. Saya selalu merasa hidup saya dan semua yang saya punya di dunia ini tidak cukup dan tidak ada apa-apanya dibanding mereka yang saya lihat di media sosial. Itu pula yang akhirnya membuat saya sibuk memalsukan diri sendiri. Saya berpikir keras bagaimana caranya agar saya bisa terlihat 'keren' dan 'wah' seperti mereka.


Saya bahkan sampai membeli filter instagram dengan harga yang lumayan banyak hanya agar postingan saya bisa terlihat keren dan tidak ketinggalan jaman. Dapat banyak like dan komentar positif memang membuat saya senang dan bersemangat, tapi ketika tidak mendapat respon itu membuat saya galau bahkan tersiksa seolah telah melakukan kesalahan besar padahal itu hanya hal sepele dan harusnya tidak jadi beban juga.


Di media sosial, saya justru kehilangan diri saya sendiri. Saya baru sadar kalau selama ini, saya telah menjadi penipu yang mahir. Diri saya yang sebenarnya tak sepenuhnya ada di media sosial, sebagian besarnya hanyalah settingan dan sedikit pencitraan, hahaha.


Realistis aja sih, di dunia ini semua orang pasti ingin terlihat baik, perfect, dan tidak ada celah. Ya, memang seperti itulah hidup. Juga, yang menjadi keresahan saya sejak beberapa bulan yang lalu, saya mulai sadar bahwa banyak sekali hal-hal menarik yang terjadi di sekeliling saya yang justru saya lewatkan karena saya sibuk mengurus media sosial.


Memikirkan akan memposting hal apa lagi menjadi beban bagi saya tiap hari. "Ah, ini kurang bagus", "Aduh, kok kelihatan gemuk?", "Aku hitam banget, yah". Dan semua kalimat pembunuh jati diri selalu saya semburkan. Saya menganggap bahwa saya tidak pernah cukup dibandingkan dengan kehidupan orang lain. Selain itu, media sosial membuat saya jadi pemalas dan selalu merasa lelah padahal tidak pernah melakukan pekerjaan yang begitu berat.


Tanpa sadar saya telah menyiksa diri saya sendiri hingga saya sampai pada suatu kondisi dimana saya merasa "muak" dengan media sosial.


I'm getting sick of social media.


Saya akhirnya mencari cara bagaimana menemukan diri saya kembali. Dan saya memutuskan untuk sejenak menepi dari dunia maya. Yap, saya melakukan puasa medsos selama satu bulan penuh.


Sebulan tanpa medsos? Emang bisa? Bisa!

Saya telah mencobanya, dan berhasil!

Meskipun di minggu pertama saya merasa jenuh dan bosan karena bingung ingin melakukan apa. Biasanya buka sosmed jadi kebiasaan saya untuk mengisi waktu luang, pada saat puasa sosmed saya berusaha mencari kebiasaan baru seperti baca buku, olahraga, menulis diary, atau setidaknya nonton tv. Bangun pagi yang biasanya langsung buka hp, akhirnya berubah jadi bangun pagi langsung beres-beres, nyapu, terus mandi. Meskipun ini berat sekali saya lakukan, tapi saya terus menguatkan tekad.


Di minggu pertama dan kedua, jari-jari saya galau ingin mengotak atik benda kecil itu dan tidak bisa dipungkiri, sesekali saya tetap mencuri waktu membukanya dan melihat aktivitas teman-teman di media sosial.


Di minggu ketiga, saya mulai merasa damai dengan diri saya sendiri. Bahkan saya lupa di mana terakhir kali saya meletakkan hp. Saya bisa dengan mudah keluar rumah tanpa membawa benda kecil itu, dan tak perlu sibuk mencari colokan untuk ngecas bila hp saya lowbat. Akhirnya bisa benar-benar menikmati waktu bersama orang-orang terkasih tanpa ada iming-iming dunia maya yang seringkali membuat saya sibuk.


Hingga tiba di minggu keempat, saya mulai nyaman dengan kehidupan saya di dunia nyata, punya lebih banyak waktu bersama keluarga, dan mulai menyusun kembali mimpi-mimpi serta tujuan hidup saya.




Dengan puasa medsos, saya merasa lebih hidup, hidup dengan arti yang sesungguhnya. Merasakan koneksi yang nyata dengan kerabat dan keluarga, melakukan aktivitas-aktivitas baru yang lebih bermakna. Merenungi apa yang sudah saya lakukan, apakah hal itu masih baik untuk diteruskan atau ditinggalkan.

Yap, itulah sedikit pengalaman saya saat melakukan eksperimen yamg cukup berat ini. Semoga dapat menginspirasi teman-teman di luar sana. Terima kasih, sudah membaca tulisan saya, maaf bila ada kesalahan dan kekurangan. Sampai jumpa di cerita saya selanjutnya.



With love,
Qiona.

Komentar

  1. Tetap berkarya, jadikan tulisan sebagai wadah untuk mengekspresikan diri kamu yg sebenarnya. Prou of you qilaaa��

    BalasHapus
  2. Casino Queen Casino Near Santa Barbara, CA - MapyRO
    Casino 구리 출장마사지 Queen Casino, 양주 출장샵 California is a 김포 출장마사지 resort near Santa Barbara, 대구광역 출장마사지 California. It offers over 650 김해 출장샵 slot machines and video poker games, including poker, blackjack,

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA HARI TUA

-- Terkadang, kita bermimpi dan berkhayal jadi orang dewasa. Bisa pergi kemana saja, berpetualang sesuka hati, punya pencapaian yang berarti, mau beli apa saja tanpa perlu ada izin mami papi, dan masih banyak lagi, terutama soal cinta. Waktu kecil, saya melihat anak remaja yang bersua dengan pasangannya. Mereka sangat menyatu, membagi rasa, membagi kasih, dan banyak sekali pengalaman yang mereka ciptakan bersama. Waktu kecil, saya ingin sekali jadi orang dewasa, biar bisa melakukan apa saja yang saya suka, tapi ketika masa itu sudah saya genggam, perlahan saya menyerah dengan keadaan.  "Semua tidak semudah yang kubayangkan". Begitu yang sering kubilang tatkala mengeluh pada kenyataan.  Ternyata, jadi orang dewasa itu lebih menegangkan. Kalau kata andai bisa dikabulkan, saya akan meminta andai saya jadi anak kecil saja. Yang bahagianya sangat sederhana, yang kesukaannya bisa ia genggam hanya dengan tangisan saja. kalau jadi dewasa, apa yang diinginkan harus diusahakan sek...

Hari ke-1

Bulan ini, ibu saya akan berulang tahun yang ke 53 tahun. Tapi, sampai di hari ke 12 di bulan ini, saya sangat sepi job. Bahkan sebenarnya saya tidak punya uang samasekali. Ada sih beberapa job yang masuk, tapi cuma collab dan bayarannya cuma makan (Alhamdulillah, bersyukur!). Bersyukur bgt sebenarnya, karena walaupun bukan uang kan itu juga termasuk rezeki dari Allah. Tapi, tolong ini buat teman-teman saya, yang punya projekan, plis janganlah selalu mengandalkan projek thankyou, soalnya tiap orang punya keperluan beda-beda, kadang-kadang mereka punya keperluan mendesak, sama kayak saya sekarang ini. Niat kerja kumpulkan uang biar bisa beli kado buat ibu, biar bisa pulang kampung kasih surprise ke beliau, tapi sampai hari ini masih belum terkumpul uangnya seeepeserpun. Bukan, tulisan ini bukan untuk meminta sumbangan pembaca-pembaca. Bukan. Saya cuma mau tulisan ini menjadi jejak. Mari kita lihat seperti apa dunia berpihak pada niat baik saya untuk merayakan hari ulang tahun ibu saya d...

REVIEW FILM "ZERO" karya Mihir Mahidar

Film ini dimulai dengan teknik pengambilan gambar "extreme long shot" yaitu pengambilan gambar dari jauh hingga menampakkan pemandangan yang sangat luas disekitar objek. Di awal film kita disuguhkan pemandangan disebuah desa pegunungan yang tandus dan gersang. Hal inilah yang menurut saya menyiratkan informasi mengenai tempat yang akan diceritakan dalam film ini. Dan secara tersirat menjawab pertanyaan "di mana". Kemudian dipertegas lagi dengan adanya pembatas jalan yang bertuliskan "Nanakheda 10 km". Film yang ditulis oleh Mihir Mahidhar ini secara keseluruhan menceritakan tentang kehidupan seorang anak laki-laki yang tinggal sebatang kara, menghabiskan waktunya sepanjang hari menjaga warung tua peninggalan ibunya. Setiap hari orang hanya lewat, kendaraan lalu lalang tanpa satupun yang berminat untuk singgah. Jujur, ada satu hal yang buat saya bertanya-tanya. Di beberapa bagian dalam film ini, ada yang menampilkan bendera putih lusuh serta bendera...