Perkenalkan, Alda dan Dina. Dua manusia kuat yang berhasil menamparku secara halus, bahwa hidup bukan melulu tentang jabatan dan uang. Ada manusia di bawah kita. Yang hidup namun seperti tak hidup. Yang tertawa lepas karena kesedihan yang mau tidak mau musti mereka terima.
Tepat di hari Jumat, 20 September 2019 pukul 19.54. Aku berjalan di depan Indomaret Adhyaksa Baru, samar-samar aku dengar ada yang sedang memanggilku, aku berbalik dan menemukan dua gadis kecil dengan pakaian lusuh sedang tersenyum ke arahku, mereka menghampiriku.
"kak, kak". Kami memang saling kenal karena aku ikut mengajar di tempat mereka sering ngaji.
Singkat cerita, akhirnya kami mengobrol di depan masjid yang ada di samping Indomaret, sambil tertawa-tawa, sambil sedih juga sih sebenarnya. Jadi aku tanya ke mereka, tadi kenapa ngga ikut ngaji? Terus awalnya mereka jawab "bajuku kotor kak, hehe". Tapi setelah aku tanya kedua kalinya, akhirnya mereka jawab "dilarangka pergi mengaji kak kalau nda cukup 70 ribu ku dapat satu hari". Saya kaget bukan main. Masa iya mereka dilarang untuk menuntut ilmu, apalagi ini mengaji loh, menyangkut urusan akhirat.
Akhirnya saya tanya lagi siapa yang larang? Dina jawab “Kakek” sedangkan Alda jawab “Bapak”. Si kecil yang di tengah itu, dia selalu berusaha untuk menyembunyikan jawaban sebenarnya, alias tiap kali saya tanya dia berbohong dan kalian pasti tahulah, anak kecil mana bisa bohong, itu pasti kentara dari wajah mereka. Tapi untungnya, si Dina ini (yg tidak pakai jilbab) dia cerewet dan dia yang selalu mengatakan apa yg terjadi sebenarnya.
Kita pokoknya cerita banyak hal. Ternyata mereka berdua ini tidak saudara, mereka cuma tetanggaan sekaligus jadi partner kerja (mulung sambil ngemis). Si Alda (yg tengah) tinggal bersama bapak dan kakaknya, sedangkan si Dina dia tinggal bersama kakek dan kakaknya.
"Mamaku ke Kendari, kak". Jawab Alda waktu kutanya ibunya ke mana
"Nda pernah balik lagi ke sini?"
Mendengar pertanyaan aku itu, mata Alda berbinar-binar, aku tentu merasa bersalah bertanya seperti itu. Tapi dia jawab "mamaku nda pernah mi pulang kak, nda tau ka sekarang dia ada di mana".
"Kalau saya kak, dua mamaku, dua juga bapakku. Hahahah". Dina tiba-tiba memotong pembicaraan, sambil tertawa.
"Bapakku sudah mi menikah lagi terus tinggal mi sekarang di Takalar. Kalau mamaku tinggal mi di Sinjai". Sambung Dina.
Dina dan Alda, kalau mereka pulang dan mereka tidak dapat uang sesuai target, mereka kadang-kadang dicambuk, tidak dikasih makan, disiksa lah pokoknya. Kasian banget, kan. Padahal mereka masih kecil, anak seusia mereka lagi senang-senang main di rumah, belajar, atau bahkan sudah tertidur pulas di kasur empuk. Tiap hari mereka menyusuri jalan dari Toddopuli sampai Adhyaksa Baru, jalan kaki tanpa sandal, hanya untuk cari botol minuman plastik dan ngemis juga tentunya. Ya ampun, ngga kebayang kalau aku jadi mereka :(
Terus nih yah, kami cerita panjang lebar, hingga aku menanyakan sesuatu yang jawabannya benar-benar buat perasaan aku jadi campur aduk, antara mau marah dan sedih, ini menyebalkan dan miris juga sebenarnya. Tau tidak? Aku tanya "Alda, bapak kamu kerja apa?" Alda nyengir tuh, ga mau jawab. Sebenarnya ini adalah hal yang aneh juga menurutku. Entah kenapa Alda selalu ingin menutupi semua yang terjadi, seolah-olah dia memang sudah diancam oleh seseorang untuk merahasiakan semua itu. Tapi akhirnya Dina angkat bicara dan dia bilang
"ndadaji kak, anuji na kerja, minum Ballo".
Alda nyelah "Eh, kakekmu juga anu, suka minum Ballo".
"Ih saya ka nda setiap hari ji, bapakmu iya setiap pagi dan malam".
Wah, gila parah. Jadi mereka di suruh ngemis, di suruh mulung, tiap hari dari pagi hingga larut malam ternyata hanya untuk membiayai orang tua mereka biar bisa minum Ballo, biar bisa berfoya-foya. Astagaa! Aku tidak habis pikir. Harusnya kan orang tua yang membiayai anaknya, yang mencari rezeki agar anaknya bisa makan hari ini, tapi ini kebalik.
Tega sekali Bapak dan Kakek itu. Padahal cuma pada mereka anak-anak kecil ini bergantung. Apa mereka tidak tahu cara mengasuh anak yang baik? Ku rasa semua orang tua mau yang terbaik untuk anaknya. Orang tua harusnya rela banting tulang, tak terhitung berapa banyak keringatnya yang bercucuran, hanya untuk membahagiakan anaknya. Tapi ini?!! Yang terjadi malah sebaliknya. Apa nurani mereka sebagai orang tua sudah lenyap tertelan kerasnya kehidupan? Atau mereka sudah kehabisan akal karena memutar otak hanya agar bisa dapat makan hari ini?
Tadi, seharian mereka keluar dan mereka baru dapat uang 1000 rupiah. Kalau mereka pulang dengan tangan kosong, entah pukulan macam apa lagi yang akan mendarat di tubuh mungil mereka. Ya Allah kasihan betul mereka :((
Mendengar cerita mereka, aku sedih bukan main. Tapi mereka masih bisa tertawa terbahak-bahak, meski mereka tidak tahu makna bahagia itu apa. Baju lusuh yang mereka kenakan, penuh debu, kotor, bau, tapi mereka nyaman-nyaman saja pakai itu. Kehidupan yang menyiksa mereka, mereka suka saja dengan semua itu. Mereka suka, karena mereka memang harus menyukai itu. Tidak ada pilihan lain. Mereka bisa bernapas saja itu sudah cukup, meskipun mereka sebenarnya tidak tahu untuk apa juga mereka hidup.
Lalu, yang ingin aku tanyakan, di mana orang-orang yang suka bicara di atas mimbar, yang isi pidatonya selalu tentang makmur dan keadilan? Apa itu semua cuma omong kosong? Sedih sekali rasanya. Di sudut kota di sebuah negeri yang tak hentinya menjanjikan kehidupan yang sejahtera, mereka bahkan hidup jauh dari kata merdeka.
Tidak ada seorang pun yang menyukai hidup seperti ini. Bernapas di tempat yang baunya bukan main, tidur di bawah atap yang bocor di mana-mana. Makan dari makanan sisa-sisa manusia serakah, mengais tong sampah, menadah tangan minta belas kasihan. Sungguh tidak ada yang memimpikan kehidupan seperti itu. Tapi mereka menjalaninya saja. Mau protes bagaimanapun tidak ada juga yang mau mendengarkan Orang-orang berdasi yang katanya mendengar keresahan rakyat, mereka cuma sibuk memperebutkan kursi jabatan.
Setelah ngobrol banyak hal sama Dina dan Alda, akhirnya aku pamit untuk pulang. Mereka memeluk aku, tanpa aku minta. Aku berusaha tersenyum meski sebenarnya air mataku sudah menggenang di sudut mata.
"Kak, besok-besok kita cerita lagi yah". Ucap Alda sambil tetap memelukku
"Iyaa, pasti. Kamu harus rajin pergi mengaji yah". Aku mengelus pundak mereka.
"Iyaa ka, dadahh".
Aku tahu mereka sangat membutuhkan orang-orang yang mau melihat mereka sebagai manusia bukan sebagai sampah. Mereka senang bila ada yang ingin mendengar cerita mereka, turut merasakan apa yang mereka alami selama ini. Usia mereka memang baru seberapa, tapi mereka mendapat pengalaman hidup yang tak biasa.
penuh cinta,
Fadiahaya.

Komentar
Posting Komentar