--
Terkadang, kita bermimpi dan berkhayal jadi orang dewasa. Bisa pergi kemana saja, berpetualang sesuka hati, punya pencapaian yang berarti, mau beli apa saja tanpa perlu ada izin mami papi, dan masih banyak lagi, terutama soal cinta. Waktu kecil, saya melihat anak remaja yang bersua dengan pasangannya. Mereka sangat menyatu, membagi rasa, membagi kasih, dan banyak sekali pengalaman yang mereka ciptakan bersama. Waktu kecil, saya ingin sekali jadi orang dewasa, biar bisa melakukan apa saja yang saya suka, tapi ketika masa itu sudah saya genggam, perlahan saya menyerah dengan keadaan.
"Semua tidak semudah yang kubayangkan". Begitu yang sering kubilang tatkala mengeluh pada kenyataan.
Ternyata, jadi orang dewasa itu lebih menegangkan. Kalau kata andai bisa dikabulkan, saya akan meminta andai saya jadi anak kecil saja. Yang bahagianya sangat sederhana, yang kesukaannya bisa ia genggam hanya dengan tangisan saja. kalau jadi dewasa, apa yang diinginkan harus diusahakan sekuat tenaga agar bisa meraihnya, mana bisa meraihnya hanya dengan tangisan.
Tapi lagi-lagi, waktu tidak mungkin diputar ke alam silam. Masa kecil sudah jadi pengalaman, dan masa dewasa adalah tantangan.
--
Pernah pada suatu sore, saya menjumpai seorang nenek yang tinggal sendiri di rumahnya. Katanya, kekasih hatinya sudah lama menutup usia, sedang anaknya merantau ke pulau tetangga. Setiap hari tidak banyak yang bisa ia lakukan, karena memang tenaga yang ia punya sudah mengikis sejak lama. katanya, ia merindukan paginya yang penuh dengan senyum wajah berkilat, wajah putera-puteranya. Ia merindukan kecupan kening dari kekasih hatinya tiap kali hendak berangkat kerja. Ia merindukan hangatnya malam bersama keluarga. Tapi kini rindu yang ia pelihara itu, hanya mampu jadi angan dan khayalan saja. Ia hidup seorang diri sekarang, sebatang kara.
Ia memiliki tujuh putera dan satu puteri. Dan hati saya tercabik-cabik, runtuh, hancur, ketika mendengar pernyataan sang nenek bahwa tiga dari buah hatinya lebih dulu pergi meninggalkannya dan tidak mungkin bisa kembali lagi ke dunia. Puteri semata wayangnyalah yang pertama menutup usia, kemudian di susul oleh kekasih hatinya (sang suami), kemudian di susul lagi oleh puteranya yang kedua, dan setelah itu disusul lagi oleh puteranya yang terakhir. Betapa besar duka yang ditanggung oleh si nenek ini.Dalam kurun waktu kurang lebih 2 tahun, ia kehilangan empat nyawa sekaligus. Tidak kebayang bagaimana sakit yang dirasakan nenek ini.
Saya sudah tidak mampu membendung air mata, rasanya sulit sekali untuk ditahan. Anaknya yang masih hidup, sekarang tengah merantau dan sudah berpuluh tahun tidak kembali.
"Mungkin mereka sudah lupa dengan nenek, nak".
Kalimat yang berhamburan keluar dari mulut sang nenek itu membuat saya semakin terisak, hati saya seolah teriris-iris. Bagiamana bisa si nenek tetap hidup dalam lingkaran penderitaan yang ia alami seperti sekarang ini. Kalau saja saya ada dalam posisi nenek tua ini, mungkin sudah lama saya gantung diri.
Saya menangkap banyak sekali pelajaran dari sang nenek. Selain semangat juang untuk tetap hidup, si nenek juga samasekali tidak menyalahkan keadaan atas kepedihan yang terjadi pada dirinya.
"Sudah jadi takdir saya diberi kisah hidup seperti ini. Mau apalagi? Saya hanya bisa menerima. Saya bukan Tuhan yang bisa mengatur kehendak dan keadaan". Begitu katanya, dengan nada sendu dan diiringi batuk sesekali.
Si nenek menunjukkan pada saya sebuah album foto, potret kebahagiaan keluarganya. Si nenek hanya tersenyum, sedangkan saya sudah menangis terisak-isak. Bagaimana mungkin si nenek bisa sekuat itu? Saya saja yang bukan pemeran dari cerita menyedihkan ini sudah terisak parah seperti ini? Nenek benar-benar hebat, sebuah contoh teladan.
"Terakhir kali mereka datang, kapan nek?".
"Waktu si bungsu berpulang ke tangan Tuhan, sekitar sepuluh tahun yang lalu".
Oh ya Tuhan, tega sekali mereka tidak pernah menengok ibunya yang sudah renta. Apa mereka sudah lupa bahwa mereka masih punya ibu? Benar-benar keterlaluan. Ibu yang membesarkan mereka, membiayayai sekolah mereka, mendidik mereka, menyayangi mereka dengan tulus, kini mereka buang begitu saja? Bagi saya, apa susahnya sih ambil cuti sebentar kemudian pulang menengok sang ibu? Benar-benar anak yang tidak tahu balas budi.
"Tapi nenek sering dapat kabar dari mereka?".
"Pernah, tapi jarang, nak. Anak saya yang di Kalimantan itu, ia pernah mengirim uang dan baju ke sini".
"Itu rutin atau sesekali nek?".
"Rutin, setiap tiga tahun dua kali".
Lagi-lagi saya menangis. Gila, sudah tidak pernah kirim kabar, tidak pernah datang, eh kirim barang juga dua kali selama tiga tahun. Ya Tuhan... sedih sekali nenek ini.
"Padahal nenek tidak butuh barang mahal itu. Lagipula apa gunanya buat nenek? Saya cuma ingin mereka ke sini, memeluk saya sebelum pada akhirnya saya di peluk Tuhan".
Sekarang jangan tanyakan lagi bagaimana keadaan saya. Saya sampai kesulitan mengatur napas karena isakan tangis. Tapi lagi-lagi nenek hanya tersenyum sembari mengelus-elus pundak saya. Kenapa ia kuat sekali? Seharusnya kan saya yang mengelus pundaknya, menenangkannya, dan membuatnya tersenyum lagi. Saya jadi malu pada nenek, ia lebih tabah meski ia yang mengalami semuanya, sedang saya yang hanya sebagai pendengar sudah bercucuran air mata begini, bagaimana jika saya yang mengalaminya?
Sebelum mengakhiri pertemuan itu, saya memberikan sebuah bingkisan pada nenek. Awalnya ia tolak, tapi berhasil saya paksa.
"Lain kali, tidak usah capek-capek kasih nenek begini".
"Tapi kan, nenek butuh ini untuk makan sehari-hari".
"Nenek butuh teman, kamu sering-sering yah ke sini".
Kali ini saya berusaha lebih kuat. Saya tersenyum meski wajah masih dipenuhi air mata. Sudah tidak sanggup lagi saya berucap, hanya mengangguk-angguk dengan pasti kemudian berbalik dan pergi, meninggalkan nenek yang kesepian kembali.
Nek, saya janji akan ke sana lagi. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali.
--
Setelah menemui nenek itu, saya mendapat banyak sekali pelajaran. Terutama pandangan saya tentang hidup yang penuh rintangan. Saya berusaha lebih kuat mengahadapi semuanya. Kata menyerah, sudah berusaha saya hilangkan dari kamus kehidupan saya. Meski terkadang muncul kembali ke permukaan, tapi tidak akan saya biarkan berlama-lama, segera saya singkirkan. Kalau sang nenek saja yang dengan beribu penderitaan itu bisa kuat, kenapa saya yang hidupnya masih stabil-stabil saja tidak bisa lebih kuat?
Sejak hari itu saya tidak ingin lagi jadi anak kecil. Saya menikmati masa remaja saya. Meski penuh tantangan, semangat pasti akan merobohkan tantangan itu.
---
Senin, 13 Agustus 2018
Di Belawa.
Terkadang, kita bermimpi dan berkhayal jadi orang dewasa. Bisa pergi kemana saja, berpetualang sesuka hati, punya pencapaian yang berarti, mau beli apa saja tanpa perlu ada izin mami papi, dan masih banyak lagi, terutama soal cinta. Waktu kecil, saya melihat anak remaja yang bersua dengan pasangannya. Mereka sangat menyatu, membagi rasa, membagi kasih, dan banyak sekali pengalaman yang mereka ciptakan bersama. Waktu kecil, saya ingin sekali jadi orang dewasa, biar bisa melakukan apa saja yang saya suka, tapi ketika masa itu sudah saya genggam, perlahan saya menyerah dengan keadaan.
"Semua tidak semudah yang kubayangkan". Begitu yang sering kubilang tatkala mengeluh pada kenyataan.
Ternyata, jadi orang dewasa itu lebih menegangkan. Kalau kata andai bisa dikabulkan, saya akan meminta andai saya jadi anak kecil saja. Yang bahagianya sangat sederhana, yang kesukaannya bisa ia genggam hanya dengan tangisan saja. kalau jadi dewasa, apa yang diinginkan harus diusahakan sekuat tenaga agar bisa meraihnya, mana bisa meraihnya hanya dengan tangisan.
Tapi lagi-lagi, waktu tidak mungkin diputar ke alam silam. Masa kecil sudah jadi pengalaman, dan masa dewasa adalah tantangan.
--
Pernah pada suatu sore, saya menjumpai seorang nenek yang tinggal sendiri di rumahnya. Katanya, kekasih hatinya sudah lama menutup usia, sedang anaknya merantau ke pulau tetangga. Setiap hari tidak banyak yang bisa ia lakukan, karena memang tenaga yang ia punya sudah mengikis sejak lama. katanya, ia merindukan paginya yang penuh dengan senyum wajah berkilat, wajah putera-puteranya. Ia merindukan kecupan kening dari kekasih hatinya tiap kali hendak berangkat kerja. Ia merindukan hangatnya malam bersama keluarga. Tapi kini rindu yang ia pelihara itu, hanya mampu jadi angan dan khayalan saja. Ia hidup seorang diri sekarang, sebatang kara.
Ia memiliki tujuh putera dan satu puteri. Dan hati saya tercabik-cabik, runtuh, hancur, ketika mendengar pernyataan sang nenek bahwa tiga dari buah hatinya lebih dulu pergi meninggalkannya dan tidak mungkin bisa kembali lagi ke dunia. Puteri semata wayangnyalah yang pertama menutup usia, kemudian di susul oleh kekasih hatinya (sang suami), kemudian di susul lagi oleh puteranya yang kedua, dan setelah itu disusul lagi oleh puteranya yang terakhir. Betapa besar duka yang ditanggung oleh si nenek ini.Dalam kurun waktu kurang lebih 2 tahun, ia kehilangan empat nyawa sekaligus. Tidak kebayang bagaimana sakit yang dirasakan nenek ini.
Saya sudah tidak mampu membendung air mata, rasanya sulit sekali untuk ditahan. Anaknya yang masih hidup, sekarang tengah merantau dan sudah berpuluh tahun tidak kembali.
"Mungkin mereka sudah lupa dengan nenek, nak".
Kalimat yang berhamburan keluar dari mulut sang nenek itu membuat saya semakin terisak, hati saya seolah teriris-iris. Bagiamana bisa si nenek tetap hidup dalam lingkaran penderitaan yang ia alami seperti sekarang ini. Kalau saja saya ada dalam posisi nenek tua ini, mungkin sudah lama saya gantung diri.
Saya menangkap banyak sekali pelajaran dari sang nenek. Selain semangat juang untuk tetap hidup, si nenek juga samasekali tidak menyalahkan keadaan atas kepedihan yang terjadi pada dirinya.
"Sudah jadi takdir saya diberi kisah hidup seperti ini. Mau apalagi? Saya hanya bisa menerima. Saya bukan Tuhan yang bisa mengatur kehendak dan keadaan". Begitu katanya, dengan nada sendu dan diiringi batuk sesekali.
Si nenek menunjukkan pada saya sebuah album foto, potret kebahagiaan keluarganya. Si nenek hanya tersenyum, sedangkan saya sudah menangis terisak-isak. Bagaimana mungkin si nenek bisa sekuat itu? Saya saja yang bukan pemeran dari cerita menyedihkan ini sudah terisak parah seperti ini? Nenek benar-benar hebat, sebuah contoh teladan.
"Terakhir kali mereka datang, kapan nek?".
"Waktu si bungsu berpulang ke tangan Tuhan, sekitar sepuluh tahun yang lalu".
Oh ya Tuhan, tega sekali mereka tidak pernah menengok ibunya yang sudah renta. Apa mereka sudah lupa bahwa mereka masih punya ibu? Benar-benar keterlaluan. Ibu yang membesarkan mereka, membiayayai sekolah mereka, mendidik mereka, menyayangi mereka dengan tulus, kini mereka buang begitu saja? Bagi saya, apa susahnya sih ambil cuti sebentar kemudian pulang menengok sang ibu? Benar-benar anak yang tidak tahu balas budi.
"Tapi nenek sering dapat kabar dari mereka?".
"Pernah, tapi jarang, nak. Anak saya yang di Kalimantan itu, ia pernah mengirim uang dan baju ke sini".
"Itu rutin atau sesekali nek?".
"Rutin, setiap tiga tahun dua kali".
Lagi-lagi saya menangis. Gila, sudah tidak pernah kirim kabar, tidak pernah datang, eh kirim barang juga dua kali selama tiga tahun. Ya Tuhan... sedih sekali nenek ini.
"Padahal nenek tidak butuh barang mahal itu. Lagipula apa gunanya buat nenek? Saya cuma ingin mereka ke sini, memeluk saya sebelum pada akhirnya saya di peluk Tuhan".
Sekarang jangan tanyakan lagi bagaimana keadaan saya. Saya sampai kesulitan mengatur napas karena isakan tangis. Tapi lagi-lagi nenek hanya tersenyum sembari mengelus-elus pundak saya. Kenapa ia kuat sekali? Seharusnya kan saya yang mengelus pundaknya, menenangkannya, dan membuatnya tersenyum lagi. Saya jadi malu pada nenek, ia lebih tabah meski ia yang mengalami semuanya, sedang saya yang hanya sebagai pendengar sudah bercucuran air mata begini, bagaimana jika saya yang mengalaminya?
Sebelum mengakhiri pertemuan itu, saya memberikan sebuah bingkisan pada nenek. Awalnya ia tolak, tapi berhasil saya paksa.
"Lain kali, tidak usah capek-capek kasih nenek begini".
"Tapi kan, nenek butuh ini untuk makan sehari-hari".
"Nenek butuh teman, kamu sering-sering yah ke sini".
Kali ini saya berusaha lebih kuat. Saya tersenyum meski wajah masih dipenuhi air mata. Sudah tidak sanggup lagi saya berucap, hanya mengangguk-angguk dengan pasti kemudian berbalik dan pergi, meninggalkan nenek yang kesepian kembali.
Nek, saya janji akan ke sana lagi. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali.
--
Setelah menemui nenek itu, saya mendapat banyak sekali pelajaran. Terutama pandangan saya tentang hidup yang penuh rintangan. Saya berusaha lebih kuat mengahadapi semuanya. Kata menyerah, sudah berusaha saya hilangkan dari kamus kehidupan saya. Meski terkadang muncul kembali ke permukaan, tapi tidak akan saya biarkan berlama-lama, segera saya singkirkan. Kalau sang nenek saja yang dengan beribu penderitaan itu bisa kuat, kenapa saya yang hidupnya masih stabil-stabil saja tidak bisa lebih kuat?
Sejak hari itu saya tidak ingin lagi jadi anak kecil. Saya menikmati masa remaja saya. Meski penuh tantangan, semangat pasti akan merobohkan tantangan itu.
---
Senin, 13 Agustus 2018
Di Belawa.

Terima kasih sudah ingin berbagi kisah nenek itu disini. Peluk jauh ❤
BalasHapusSemoga sehat slalu nek
BalasHapus